DPP RGPI: Isu demonstrasi besar besaran terkesan provokatif, ingin pecah belah bangsa
LENSAINDONESIA.COM: Sekjend DPP RGPI (Rajawali Garda Pemuda Indonesia) Syarief Kalepe menilai isu demonstrasi secara besar-besaran yang beredar di media terkesan provokatif dan ingin memecah belah persatuan serta kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian Sekjend Ormas kepemudaan yang berjargon independen itu, menanggapi berita yang beredar, menyebutkan ribuan mahasiswa siap melakukan demonstrasi besar-besaran secara serentak jika Presiden Joko Widodo atau Jokowi tidak mengabulkan tuntutan mereka. Hal ini diungkapkan Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI). Sekjend DPP RGPI menilai, sekarang banyak pemberitaan kurang berkualitas dan tidak mendidik, proses penyampaian berita atau pesan ke masyarakat terkesan asal-asalan, dan tidak selektif. Dikarenakan, banyak pemberitaan yang disampaikan bermuatan bohong atau hoks. “Ada kelompok kecil yang diduga sengaja memainkan isu untuk membuat gaduh dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Syarif Kalepe dalam keterangan tertulis, dikutip LensaIndonesia.com, Jumat (8/4/2022). Melansir Wartaekonomi.co.id jaringan Suara.com, perwakilan Koordinator AMI Bogor, Ruben Bentiyan mengatakan, mahasiswa bakal mengepung Istana jika Jokowi tak membuat pernyataan resmi menolak masa perpanjangan presiden 3 periode. Selain itu, ada kelompok Mahasiswa yang mengatasnamakan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) juga berencana akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran pada 11 April 2022. Mereka menuntut hal yang sama, yaitu pernyataan tegas dari Presiden Joko Widodo atau Jokowi terkait penundaan jabatan 3 periode atau memperpanjang masa jabatan. Dikutip dari media FIN.Fajar Indonesia.Network, sedianya mahasiswa melakukan aksi besar pada Jumat 1 April 2022 pekan lalu di Ring I Istana Negara. Mereka memberi batas waktu kepada Presiden Jokowi untuk tampil memberikan pernyataan tegas menolak 3 periode atau perpanjang masa jabatan. Mencermati berita-berita yang marak di media online itu, Syarif Kalepe menduga, sedang ada kelompok kecil yang tidak senang dengan Presiden Jokowi. Sehingga, mereka ingin mengacaukan stabilitas Keamanan dan Politik di NKRI serta ingin menjatuhkan atau meruntuhkan atau menggulingkan Pemerintahan yang sah. “Hal tersebut merupakan provokator dan tindakan kejahatan hukum dalam hal ini adalah makar,” tandasnya. Syarief mengutip KSP Moeldoko sebagai representasi negara menyatakan dalam konferensi pers, bahwa negara saat ini sedang sibuk untuk pemulihan situasi yang terkena dampak Pendemi Covid-19. Dan, ditegaskan tidak ada ruang untuk menunda pemilu. Apalagi, menambah masa jabatan menjadi tiga periode. Sebab, bunyi konstitusi sudah jelas tidak ada perpanjangan massa jabatan presiden. Pertimbangan itu, Syarief mengatakan, secara pribadi mengajak teman-teman mahasiswa agar tidak terlalu jauh tergiring isu-isu provokatif. Ia mengingatkan, di bulan suci ramadan mesti lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menghormati dengan kegiatan bernilai ibadah. “Hemat saya alangkah baiknya selaku mahasiswa, fokus pada isu-isu kemanusiaan dan kepentingan rakyat banyak. Fokus mengawal program-program pemerintah untuk perbaikan ekonomi pasca pendemi covid-19 agar bangsa ini bisa bangkit dan lepas dari permasalahan-permasalahan,” tandas Syarief. Dikhawatirkan, lanjut dia, terlalu jauh masuk ke ranah politik, sudah pasti setiap aksin akan ditunggangi kelompok yang berkepentingan untuk memecah belah bangsa dan ingin melakukan gerakan inkonstitusional. Mewakili seluruh DPP RGPI, Syarief mengajak mahasiswa dan masyarakat agar tidak terprovokasi isu-isu hoax yang diberitakan, dan harus lebih selektif dalam menanggapi. “Saat sekarang, lebih baik beribadah, saya sangat berharap kepada pihak Kepolisian Republik Indonesia agar membongkar dalang provokator, menindak tegas penyebar hoax serta menindak para perusuh bangsa,” pungkasnya. @penu